Hilangkan Mental Pengemis dari Diri Kita | ADI SUMARNA

Hilangkan Mental Pengemis dari Diri Kita Bumi Korea Sabtu, 15 Februari 2020 No Comment


Saat ini, iklim perekonomian memang sedang lesu. Suhu politik sisa Pilpres 2014 belum juga stabil, harga-harga bahan kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan, subsidi-subsidi dikurangi, pajak di sana-sini dimaksimalkan, dollar pun masih terlalu perkasa untuk rupiah. Ini semua menyebabkan daya beli masyarakat berangsur-angsur anjlok. Tak heran bila ada yang mengait-ngaitkannya dengan gejala krisis 1998.

Pertanyaannya, seandainya ini memang krisis, apa yang kita lakukan? Berpangku tangan sambil menghujat pemimpin negara lantaran tidak becus mengendalikan gejolak ekonomi? Menunggu bantuan turun dari Pemerintah untuk mengangkat kita dari keterpurukan?

Sebaiknya jangan. Karena, itu sama artinya dengan memupuk mental pengemis dalam diri kita. Ini sikap yang sangat negatif. Selamanya, kita takkan pernah menjadi bangsa besar bila kita dikuasai oleh mental peminta-minta.

Saya ingin mengajak Anda sejenak menengok belahan dunia lain. Ada sebuah negeri dengan sejarah panjang tapi terjal. Negeri yang mengapung di Laut Mediterania itu biasa kita sebut Palestina. Konflik berkepanjangan menderanya selama berabad-abad, terutama dalam lingkaran perseteruannya dengan Israel.

Orang-orang Palestina ini diserang, ditekan, diboikot, diteror dan dibombardir, hingga hidup semakin terasa sempit. Tapi semua itu tidak membuat penduduknya bermental pengemis. Di sana, jika Anda coba-coba menyumbang seseorang, yang terlihat membutuhkan sekalipun, sangat mungkin dia akan menolak halus, “Maaf, saya yakin ada yang lebih berhak menerimanya.”

Tidak satu pun warga di sana meminta-minta, sekalipun hidupnya susah. Seperti ini seharusnya bangsa yang bermartabat.

Alangkah berbedanya dengan kondisi negeri kita, dimana pengemis bisa menjadi profesi. Senin sampai Jumat, seseorang bekerja dengan pakaian compang-camping di kota. Sabtu sampai Minggu, dia pulang kampung mengendarai BMW.

Sebagian dari kita bahkan sampai rela menyamar sebagai rakyat miskin agar memperoleh bantuan-bantuan dari Pemerintah. Atau ikut berdesak-desakan mengikuti pasar sembako murah, padahal masih banyak yang lebih membutuhkannya.

Itu sama saja dengan memupuk mental pengemis dalam diri kita. Mental ingin dikasihani. Semoga Anda dan saya tidak termasuk orang-orang ini. Sebab justru di saat krisis semacam ini, harusnya kita memanfaatkannya untuk membuktikan diri bisa berdiri di atas kaki sendiri. Mari keluarkan semua potensi diri kita!

Tidakkah kita ingin seperti Jepang yang hancur lebur di Perang Dunia II, namun sekarang
menjadi negara industri yang disegani dunia?

Tidakkah kita ingin seperti Korea Selatan yang sampai tahun 1963 masih berstatus negara melarat, namun kini menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia?

Tidakkah kita ingin seperti Palestina yang porak-poranda, namun masih bisa berjalan dengan kepala tegak dan harga diri yang utuh?

Tidakkah kita melihat, ini saat yang tepat untuk membuang jauh mental pengemis dalam diri kita? Mari kita bangkit! Tunjukkan pada dunia, bahwa kita punya lilin yang menyala ketika keadaan mulai gelap seperti sekarang.

by Bumi Korea

Bumi Korea Media online untuk berbagi pengetahuan seputar korea selatan mulai dari bahasa kebudayaan dan hiburan

Follow her @ Instagram | Facebook | Google Plus

No Comment