Saat ini, iklim perekonomian memang sedang lesu. Suhu
politik sisa Pilpres 2014 belum juga stabil, harga-harga bahan kebutuhan pokok
terus mengalami kenaikan, subsidi-subsidi dikurangi, pajak di sana-sini
dimaksimalkan, dollar pun masih terlalu perkasa untuk rupiah. Ini semua
menyebabkan daya beli masyarakat berangsur-angsur anjlok. Tak heran bila ada
yang mengait-ngaitkannya dengan gejala krisis 1998.
Pertanyaannya, seandainya ini memang krisis, apa yang
kita lakukan? Berpangku tangan sambil menghujat pemimpin negara lantaran tidak
becus mengendalikan gejolak ekonomi? Menunggu bantuan turun dari Pemerintah
untuk mengangkat kita dari keterpurukan?
Sebaiknya jangan. Karena, itu sama artinya dengan
memupuk mental pengemis dalam diri kita. Ini sikap yang sangat negatif.
Selamanya, kita takkan pernah menjadi bangsa besar bila kita dikuasai oleh
mental peminta-minta.
Saya ingin mengajak Anda sejenak menengok belahan
dunia lain. Ada sebuah negeri dengan sejarah panjang tapi terjal. Negeri yang
mengapung di Laut Mediterania itu biasa kita sebut Palestina. Konflik
berkepanjangan menderanya selama berabad-abad, terutama dalam lingkaran
perseteruannya dengan Israel.
Orang-orang Palestina ini diserang, ditekan, diboikot,
diteror dan dibombardir, hingga hidup semakin terasa sempit. Tapi semua itu tidak
membuat penduduknya bermental pengemis. Di sana, jika Anda coba-coba menyumbang
seseorang, yang terlihat membutuhkan sekalipun, sangat mungkin dia akan menolak
halus, “Maaf, saya yakin ada yang lebih berhak menerimanya.”
Tidak satu pun warga di sana meminta-minta, sekalipun
hidupnya susah. Seperti ini seharusnya bangsa yang bermartabat.
Alangkah berbedanya dengan kondisi negeri kita, dimana
pengemis bisa menjadi profesi. Senin sampai Jumat, seseorang bekerja dengan
pakaian compang-camping di kota. Sabtu sampai Minggu, dia pulang kampung
mengendarai BMW.
Sebagian dari kita bahkan sampai rela menyamar sebagai
rakyat miskin agar memperoleh bantuan-bantuan dari Pemerintah. Atau ikut
berdesak-desakan mengikuti pasar sembako murah, padahal masih banyak yang lebih
membutuhkannya.
Itu sama saja dengan memupuk mental pengemis dalam
diri kita. Mental ingin dikasihani. Semoga Anda dan saya tidak termasuk
orang-orang ini. Sebab justru di saat krisis semacam ini, harusnya kita
memanfaatkannya untuk membuktikan diri bisa berdiri di atas kaki sendiri. Mari
keluarkan semua potensi diri kita!
Tidakkah kita ingin seperti Jepang yang hancur lebur di
Perang Dunia II, namun sekarang
menjadi negara industri yang disegani dunia?
Tidakkah kita ingin seperti Korea Selatan yang sampai tahun
1963 masih berstatus negara melarat, namun kini menjadi negara maju dengan
pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia?
Tidakkah kita ingin seperti Palestina yang porak-poranda,
namun masih bisa berjalan dengan kepala tegak dan harga diri yang utuh?
Tidakkah kita melihat, ini saat yang tepat untuk membuang
jauh mental pengemis dalam diri kita? Mari kita bangkit! Tunjukkan pada dunia,
bahwa kita punya lilin yang menyala ketika keadaan mulai gelap seperti
sekarang.
No Comment