Setiap ilmu memiliki tingkatan, mulai tingkat paling dasar sampai tingkat tertinggi. Orang yang ahli di satu bidang tidak serta merta langsung menjadi ahli, ada proses yang harus dilalui tingkatan demi tingkatan ilmu harus bisa dilewati guna mencapai level tertinggi.
Baca juga: Cara membentuk world class skill
Untuk mempermudah dalam menjabarkan tingkatan sebuah ilmu ini, saya menggunakan kuadran yang ditemukan oleh Alm. Bob Sadino, kuadran tersebut dikenal dengan Roda Bob Sadino.
Roda Bob Sadino (RBS) adalah diagram yg menggambarkan perputaran kehidupan seseorang dilengkapi proses pembelajaran berupa sintesis antara teori dan praktik yg menggambarkan tingkat kemampuan, kecakapan serta kompetensi seseorang.
RBS merupakan lingkaran roda yg dibagi dalam 4 kuadran dan masing-masing kuadran menggambarkan tingkat kompetensi sekaligus wilayah pembelajaran seseorang.
Roda Bob Sadino (RBS) adalah diagram yg menggambarkan perputaran kehidupan seseorang dilengkapi proses pembelajaran berupa sintesis antara teori dan praktik yg menggambarkan tingkat kemampuan, kecakapan serta kompetensi seseorang.
RBS merupakan lingkaran roda yg dibagi dalam 4 kuadran dan masing-masing kuadran menggambarkan tingkat kompetensi sekaligus wilayah pembelajaran seseorang.
1. Tahu
2. Bisa
3. Terampil
4. Ahli
1. Tahu
Kuadran tahu menggambarkan proses belajar seseorang di sekolah, kampus atau tempat-tempat kursus. Di tempat tersebut orang belajar berbagai macam teori hingga lulus.Inti dari kuadran ini adalah mengetahui teori dan informasi sebanyak mungkin. Semakin banyak tahu seseorang, maka semakin ia dipandang pintar.
Kelemahan orang-orang di kuadran ini ada pada praktik di lapangan atau dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat alias nol pengalaman. Teori yg mereka kuasai tidak otomatis bisa diaplikasikan begitu saja dalam kehidupan nyata
.
Karena sifat teori pada umumnya selalu tertinggal oleh dinamika masyarakat. Teori biasanya disusun berdasarkan riset atas fakta atau informasi yg telah berlangsung cukup lama. Dengan kata lain berbagai perubahan situasi dan kondisi terkini masyarakat sering tidak bisa lagi didekati dengan teori-teori yg sudah usang. Karena dunia berubah begitu cepat, di era industri 4.0 ini ada banyak pekerjaan dan bisnis yang punah, sebaliknya ada pekerjaan dan bisnis baru yang bermunculan.
Om Bob menggambarkan orang di kuadran tahu seperti orang belajar menembak mereka dibekali teori dan teknik cara menembak jitu tapi tak pernah menyentuh senapan dan peluruhnya apa lagi belajar menembak sasaran. Mereka memang paham cara menembak tapi tidak lantas bisa menembak. Oleh karena itu orang yg kompeten di kuadran tahu bisa jadi tidak kompeten saat terjun ke masyarakat.
Contoh lainnya adalah orang yang belajar dan menghafal teori-teori renang, jika tidak terjun ke kolam untuk praktik dan berlatih renang dengan keras maka selamanya ia tidak akan pernah bisa berenang.
2. Kuadran bisa
Kuadran Bisa merupakan antitesis dari kuadran Tahu. Bisa disebut kuadran masyarakat atau kuadran jalanan. Karena kuadran ini menggambarkan orang-orang yang tidak sekolah namun belajar langsung melakukan berbagai pekerjaan pada suatu bidang.Penghuni kuadran ini tidak melakukan pekerjaan berdasarkan teori mereka bahkan tidak peduli teori. Titik berangkatnya adalah praktik, melakukan tindakan, mengerjakan sesuatu lalu belajar sepenuhnya dari proses tersebet. Sekolah mereka adalah dunia praktik dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat, biasa disebut sekolah jalanan.
Orang-orang di kuadran ini melakukan pekerjaan dengan benar bisa juga salah namun justru kedua pengalaman itu menjadi sumber pembelajaran utama. Karena proses belajar yg berulang ulang orang yang semula tidak bisa menjadi bisa atau yg semula kurang bisa melakukan sesuatu dangan baik berangsur-angsur menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Seperti kata Tony Robin "pengulangan adalah ibu dari keterampilan".
Kembali bob menggunakan belajar menembak sebagai ilustrasi dalam kuadran ini. Orang-orang di kuadran bisa adalah orang yang memegang senapan mengisinya dangan peluru kemudian langsung menembak sasaran yang dituju. Saat pertama berlatih mungkin tembakannya meleset bahkan jauh dari sasaran namun pada hari-hari berikutnya tembakannya semakin baik bahkan mengenai sasaran. Dari sisi praktik orang-orang dikuadran Bisa adalah orang yang kompeten sehingga tahu pasti apa dikerjakan. Berbeda dengan orang di kuadran tahu yang menguasai teori tapi belum tentu bisa mengaplikasikannya. Meski demikian banyak penghuni kuadran Tahu menganggap kuadran Bisa sebagai orang yang tidak kompeten secara teori.
"Knowing is not enough, we must apply, willing is not enough, we must do." Pengetahuan saja tidak cukup, kita harus menerapkannya, keinginan saja tidak cukup, kita harus bertindak.
3. Kuadran terampil
Kuadran terampil merupakan tempat orang-orang yang pernah melewati kuadran Tahu maupun kuadran Bisa. Butuh waktu lama untuk naik ke kuadran terampil. Kuadran terampil merupakan hasil dialektika antara kuadran Tahu dan Bisa. Saat kuadran tahu terus menguji teorinya di kuadran bisa atau sebaliknya kuadran bisa mendalami proses di kuadran tahu maka proses dialektika terjadi yg meningkatkan efektivitas teori maupun praktik masing-masing kuadran.Hasil dari proses saling menguatkan ini adalah meningkatnya kemampuan seseorang maka kinerjanya dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu masyarakat menyebutnya sebagai orang yg terampil dibidangnya
Mereka yg menghuni kuadran terampil adalah orang yang respons-able dan accountable.
mampu merespon setiap masalah dangan tepat dan mampu mengatasi persoalan secara bertanggung jawab atau dapat diandalkan.
Jika ditarik dalam ilustrasi belajar menembak orang-orang di kuadran terampil sudah mampu menembak dangan baik karena dapat mempertanggungjwabkan setiap peluru yg ia tembakkan. Tembakannya juga selalu tepat sasaran karena selain terus berlatih orang-orang ini juga diajari teori dan teknik.
Ilmu boleh sama, tempat belajar boleh sama, guru boleh sama, yang membedakan adalah praktiknya. Antara orang yang mempraktikkan ilmu/teori yang dimiliki dengan yang tidak, hasil sangat jauh berbeda. Seperti kata orang bijak "No action nothing happen, take action miracle happen" Tanpa tindakan tidak akan terjadi apa-apa, ambil tindakan maka keajaiban terjadi.
4. Kuadran ahli
Kuadran ahli disebut juga kuadran profesional. Penghuninya adalah mereka yg selain berhasil meningkatkan keterampilan, responsif dan bertanggung jawab juga karena mampu memberi manfaat bagi banyak orang dan diakui oleh masyarakat. Mereka yg berhasil masuk ke kuadran ahli memiliki efektivitas diatas 90%. Hal ini dapat terjadi karena mereka telah melampaui proses penempatan di kuadran bisa dan terampil serta proses dialektika antara teori dan praktik secara terus menerus.Jika diilustrasikan dalam belajar menembak mereka yang berada di kuadran ahli adalah orang yang memiliki keahlian hebat dalam menembak. Setelah terampil menembak mereka belajar lagi trik khusus untuk meningkatkan kemampuannya. Hasilnya dengan mata tertutup pun mereka mampu menembak sasaran dengan jitu.
Kuadran terampil dan kuadran ahli hampir sama bedanya kuadran ahli diperoleh dari pengakuan masyarakat sementara predikat terampil berasal dari klaim pribadi.
Oleh karena itu orang-orang di kuadran ahli lah yg sejatinya bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang masih berada di kuadran tahu dan bisa agar dapat naik ke kuadran selanjutnya.
Jika Anda ingin mendapatka apa yang tidak didapatkan orang lain maka anda harus melakukan apa yang tidak dilakukan oleh orang lain.
PROSES IDEAL 4 KUADRAN
Idealnya setiap orang berproses atau berputar berlawanan arah jarum jam dan berdialektika sepanjang hidupnya. Perputaran dimulai dari kuadran tahu ke kuadran bisa atau sebaliknya keduanya saling menyebrang untuk meningkatkat efektivitas masing-masing.Selanjutnya kuadran bisa terus berproses dan meningkatkan kemampuan hingga naik ke kuadran tampil. Dengan meningkatnya kompetensi kuadran terampil dapat bergeser ke kuadran ahli. Pada akhirnya dari kuadran ahli kembali lagi ke kuadran tahu untuk menemukan jawaban yg tidak dapat ditemukan di kuadran lainnya. Terus berputar tanpa henti seperti pergerakan jarum dan bandul jam kalau berhenti berarti dia sedang membunyikan lonceng kematiannya sendiri.
"Stay hungry, stay foolish" tetap lapar, tetap bodoh. Karena hanya orang-orang yang merasa lapar yang tergerak mencari makan dan hanya orang-orang yang merasi bodoh yang tergerak untuk terus belajar dan berlatih.
Pelajari juga: Cara optimasi potensi diri

No Comment