Seni Mengikat Ilmu dalam Otak | ADI SUMARNA

Seni Mengikat Ilmu dalam Otak Bumi Korea Sabtu, 15 Februari 2020 No Comment



Pada era internet seperti ini, semua orang mudah memperoleh hampir apapun ilmu yang dibutuhkannya. Gratis, pula! Mau belajar tentang alam liar? Tonton saja Discovery Channel di televisi. Mau belajar trik sulap? Buka saja YouTube.com dan masukkan kata kunci “magician trick”. Mau belajar membuat presentasi? Akses saja SlideShare.net! atau google slide! Mau belajar bahasa Korea? Kunjungi saja situs bumikorea.com.  Mau belajar bisnis? Kunjungi saja AdiSumarnaa.blogspot.com dan baca artikel-artikel gratisnya :)

Ilmu-ilmu gratisan banyak sekali betebaran. Jumlahnya bahkan jauh melebihi daya tampung otak kita. Tapi, berapa dari kita yang benar-benar memanfaatkannya dengan serius? Berapa gelintir dari kita yang benar-benar menjalankannya?

Saya bukan hanya membicarakan ilmu-ilmu gratis. Ilmu-ilmu berbayar pun sama saja. Coba, sewaktu kita sekolah dulu, otak kita terus dicekoki ilmu-ilmu yang mahal, bukan? Sekarang, berapa banyak yang tersisa? Berapa banyak yang masih kita pakai untuk pekerjaan sehari-hari? Orang bilang, paling maksimal 10 persennya saja.

Lantas, kemana 90 persen sisanya? Sebagian hilang pelan-pelan dari otak kita, sebagian lagi masih ada tapi menunggu untuk hilang.

Bisakah supaya yang tersisa itu tidak hilang? Bisa! Caranya, tidak ada jalan lain, praktikkan!

Ada banyak ilmu yang tidak bisa dikuasai hanya melalui pengajaran, seminar atau membaca. Untuk bisa berenang, umpamanya, kita harus masuk ke kolam dan mencoba mengambang. Sekalipun Anda ikut seminar “How to Swim” dengan trainer atlet renang peraih emas Olimpiade, selama sebulan penuh sekalipun, kalau Anda tidak buka baju dan nyemplung, hasilnya tetap nol besar!

Kita harus praktik, praktik dan praktik! Kalau gagal, misalnya tenggelam dan harus menelan banyak air, jangan kapok. Coba lagi. Gagal lagi? Ya coba lagi! Sampai kita terampil dan bisa. Semakin sering kita melakukannya, semakin keterampilan tersebut menjadi kebiasaan. Sehingga, kita tak perlu berpikir lagi saat melakukannya.

Kalau masih menggunakan contoh renang tadi, otot-otot kita jadi refleks saja menggerakkan tubuh untuk mengambang dan meluncur. Jadi, sewaktu-waktu tercebur sungai, Anda tidak panik. Tidak bingung menghapal teori-teori How to Swim. Nanti keburu tenggelam!

Jika habit system yang didapat dari keterampilan yang terus diasah sudah terbentuk, tanpa berpikir pun, tubuh Anda akan bergerak-gerak sendiri mengambang di permukaan air. Lalu mudah saja Anda berenang menuju tepian.

Begitu juga untuk menjadi ahli dalam satu bidang, seperti menjadi pebisnis, akuntan, pilot, pengacara, arsitek, dokter, atau apapun. Tidak bisa hanya melalui teori-teori atau mengikuti seminar How to. Anda harus mengimbanginya dengan praktik.

Pengetahuan apapun yang kita peroleh dari seminar, buku, video atau kuliah dosen, takkan berguna kalau tidak Anda praktikkan dalam kehidupan nyata.

Setelah ilmu itu dikuasai dan terus diasah, Anda sebenarnya bisa membuatnya semakin menancap di otak dan takkan hilang. Yaitu dengan mengajarkannya (menyampaikannya ke orang lain) dan menulisnya. Buktikan sendiri!

by Bumi Korea

Bumi Korea Media online untuk berbagi pengetahuan seputar korea selatan mulai dari bahasa kebudayaan dan hiburan

Follow her @ Instagram | Facebook | Google Plus

Tags:

No Comment