Pada
era internet seperti ini, semua orang mudah memperoleh hampir apapun ilmu yang
dibutuhkannya. Gratis, pula! Mau belajar tentang alam liar? Tonton saja
Discovery Channel di televisi. Mau belajar trik sulap? Buka saja YouTube.com
dan masukkan kata kunci “magician trick”. Mau belajar membuat presentasi? Akses
saja SlideShare.net! atau google slide! Mau belajar bahasa Korea? Kunjungi saja situs bumikorea.com. Mau belajar bisnis? Kunjungi saja AdiSumarnaa.blogspot.com dan baca artikel-artikel
gratisnya :)
Ilmu-ilmu
gratisan banyak sekali betebaran. Jumlahnya bahkan jauh melebihi daya tampung
otak kita. Tapi, berapa dari kita yang benar-benar memanfaatkannya dengan
serius? Berapa gelintir dari kita yang benar-benar menjalankannya?
Saya
bukan hanya membicarakan ilmu-ilmu gratis. Ilmu-ilmu berbayar pun sama saja.
Coba, sewaktu kita sekolah dulu, otak kita terus dicekoki ilmu-ilmu yang mahal,
bukan? Sekarang, berapa banyak yang tersisa? Berapa banyak yang masih kita
pakai untuk pekerjaan sehari-hari? Orang bilang, paling maksimal 10 persennya
saja.
Lantas,
kemana 90 persen sisanya? Sebagian hilang pelan-pelan dari otak kita, sebagian
lagi masih ada tapi menunggu untuk hilang.
Bisakah
supaya yang tersisa itu tidak hilang? Bisa! Caranya, tidak ada jalan lain,
praktikkan!
Ada
banyak ilmu yang tidak bisa dikuasai hanya melalui pengajaran, seminar atau
membaca. Untuk bisa
berenang, umpamanya, kita harus masuk ke kolam dan mencoba mengambang.
Sekalipun Anda ikut seminar “How to Swim” dengan trainer atlet renang peraih
emas Olimpiade, selama sebulan penuh sekalipun, kalau Anda tidak buka baju dan nyemplung, hasilnya tetap nol besar!
Kita harus praktik, praktik dan praktik! Kalau gagal, misalnya
tenggelam dan harus menelan banyak air, jangan kapok. Coba lagi. Gagal lagi? Ya
coba lagi! Sampai kita terampil dan bisa. Semakin
sering kita melakukannya, semakin keterampilan tersebut menjadi kebiasaan. Sehingga,
kita tak perlu berpikir lagi saat melakukannya.
Kalau masih menggunakan contoh renang tadi, otot-otot kita jadi
refleks saja menggerakkan tubuh untuk mengambang dan meluncur. Jadi,
sewaktu-waktu tercebur sungai, Anda tidak panik. Tidak bingung menghapal
teori-teori How to Swim. Nanti keburu tenggelam!
Jika habit system yang
didapat dari keterampilan yang terus diasah sudah terbentuk, tanpa berpikir
pun, tubuh Anda akan bergerak-gerak sendiri mengambang di permukaan air. Lalu
mudah saja Anda berenang menuju tepian.
Begitu juga untuk menjadi ahli dalam satu bidang, seperti menjadi pebisnis,
akuntan, pilot, pengacara, arsitek, dokter, atau apapun. Tidak bisa hanya melalui
teori-teori atau mengikuti seminar How to. Anda harus
mengimbanginya dengan praktik.
Pengetahuan apapun yang kita peroleh dari seminar, buku, video
atau kuliah dosen, takkan berguna kalau tidak Anda praktikkan dalam kehidupan
nyata.
Setelah
ilmu itu dikuasai dan terus diasah, Anda sebenarnya bisa membuatnya semakin
menancap di otak dan takkan hilang. Yaitu dengan mengajarkannya
(menyampaikannya ke orang lain) dan menulisnya. Buktikan sendiri!
No Comment