Kekuatan Dibalik Niat
Niat bagi saya memilik peran penting dalam segala tindakan, niat menjadi fundamen dari segala kegiatan baik yang bersifat duniawi apalagi akhirat. Kalau niatnya tepat insya Allah akan membawa manfaat, kalau niatnya salah ujung-ujungnya jadi masalah.
Profesi sama, aktivitasnya sama tapi kalau niatnya berbeda maka hasilnya pun akan beda. Satu contoh ada 4 orang yang profesinya sama yaitu Guru dan aktivitasnya sama yaitu mengajar maka dengan niat yang berbeda hasilnya akan berbeda pula.
Orang ke-1 "Saya menjadi guru dan mengajar biar gak nganggur saja"
Orang ke-2 "Saya mengajar biar ilmu yang saya miliki gak hilang"
Orang ke-3 "Saya menjadi guru dan mengajar untuk menafkahi keluarga saya"
Orang ke-4 "Saya menjadi guru dan mengajar dengan niat ibadah dan agar saya bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk generasi setelah saya sebagai bekal saya di akhirat"
Dari empat orang itu tentu yang kerjanya totalitas, memiliki integritas dan kredibilitas yang tinggi serta berpotensi menghasilkan karya-karya besar adalah orang ke-4.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” (HR. Bukhori-Muslim)
Dalam islam kedudukan niat di segala ibadah jelas. Wudhu, shalat, puasa, zakat, haji, umroh, dan ibadah lainnya semua ada lafaz niatnya sendiri. Ibadah tanpa niat maka ibadahnya akan sia-sia.
Dalam hal yang bersifat duniawi pun sama, seperti bekerja, berbisnis, berorganisasi dan lain sebagainya tanpa niat ibadah dan niat yang lurus tidak akan mendatangkan hasil yang bagus.
Ya ibadah bukan hanya ritual-ritual keagamaan saja, segala sesuatu aktivitas yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai ibadah. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan adalah ibadah, menafkahi keluarga adalah ibadah, melayani orang lain dengan baik adalah ibadah. Spiritualitas bisa dilakukan ditempat kerja
Hadirkan Allah disetiap aktivitas kita jangan sampai Allah absen di tempat kerja kita. Jika kita sudah berniat untuk ibadah kepada Allah, dan yakin bahwa Allah maha melihat, maha mengetahui dan maha mendengar maka kita tidak akan berbuat curang dalam hal apapun.
Orang yang bekerja tanpa niat ibadah biasanya kerjanya asal-asalan, tidak bertanggung jawab, sering curi-curi waktu, makan gaji buta dan berbagai macam pelanggaran lainnya.
Pebisnis dan pedagang yang orientasinya hanya untung besar tanpa dilandasi niat ibadah maka berpotensi berbuat curang seperti, mencampur makanan dengan bahan-bahan berbahaya formalin atau borak, mencampur gorengan dengan plastik, mencampur daging dengan daging haram, menipu dan kecurangan-kecurangan lain yang banyak terjadi di masyarakat.
Saat menjabat sebagai ketua Karang Taruna desa saya niatkan untuk ibadah, saya anggap ini adalah medan jihad saya untuk membenahi dan menghidupkan organisasi bukan mencari penghidupan di organisi. Niat untuk memberikan kontribusi, menjadi bagian dari kemajuan desa, menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain, menjadi bagian dari keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan, niat untuk menjadikan karang taruna sebagai kendaraan untuk menebarkan manfaat kepada masyarakat.
Ketika saya menyampaikan ke anggota bahwa kita harus meluruskan niat, niatkan di karang taruna ini untuk ibadah tidak sedikit anggota dan masyarakat yang nyinyir sinis dan sadis ngapain karang taruna bawa-bawa ibadah, lucu! bahkan ada dua orang ketua karang taruna dari desa lain yang terang-terangan bilang ke saya di karang taruna itu jangan bawa-bawa ibadah, jangan bawa-bawa agama.
It's OK saya tidak merasa bahwa mereka salah dan saya yang benar, bagi saya itu hanyalah pilihan prinsip. Jadi jalani saja prinsip masing-masing, dan tentu setiap pilihan ada konsekuensinya.
Meskipun di tengah perjalanan karena satu dan lain hal saya terpaksa harus mengundurkan diri dari jabatan yang di amanahkan ke saya, sedikitpun saya tidak pernah menyesal karena selama menjabat saya selalu berusaha untuk istiqomah berjalan diatas niat dan prinsip saya. Dan saya yakin Allah akan menggantikan sesuatu yang saya tinggalkan dengan niat karena Allah dengan yang lebih baik.
Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad)
No Comment