4 Hal yang menjadikan kita sebagai penebar manfaat
Ketika saya menonton film Laskar Pelangi dulu, ada satu wasiat luarbiasa yang disampaikan oleh seorang guru laki-laki tua kepada murid-muridnya di sebuah Sekolah dasar terpencil sebelum sang guru meninggal dunia. Wasiat tersebut berbunyi "Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk meminta sebanyak-banyaknya".Kalimat itu sampai sekarang selalu saya ingat dan menjadi motivasi tersendiri bagi saya meskipun saya mendengarnya dari sebuah film.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain (HR. Tirmidzi)"
Hadits ini menjadi bahan bakar penyemangat bagi umat Islam di seluruh Dunia dalam berlomba-lomba meneberkan manfaat bagi orang lain.
Indikator sejauh mana kita bermanfaat untuk orang lain sedikitnya ada 4 pertanyaan untuk diri kita sendiri:
1. Apa kontribus saya?
Apa kontribusi saya untuk keluarga, untuk teman-teman, orang-orang di sekeliling saya, untuk masyarakat, untuk umat, untuk daerah tempat tingal saya, untuk bangsa negara, agama, dan dunia.
Tingkatkan, perbesar, perbanyak, dan perluas kontribusi kita di semua lini. Tinggalkan jejak kebaikan dimanapun kita berada. Sehingga ketika kita meninggal dunia ada kebaikan dan sesuatu yang berarti yang kita wariskan untuk generasi setelah kita yang insya Allah akan menjadi amal jariyah bagi kita.
2. Saya ini bagian dari solusi atau masalah?
Selalu tanyakan kepada diri kita "saya ini bagian dari solusi atau masalah?" sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri apakah selama ini kita sudah menjadi bagian dari solusi atas segala macam permasalahan yang ada di sekelilng kita atau jangan-jangan kita malah menjadi bagian masalah bahkan mungkin pembuat masalah (trouble maker).
Mulailah untuk peduli terhadap sekeliling kita bukan hanya memikirkan diri sendiri. Jadilah bagian dari solusi, jadilah bagian dari kebahagiaan orang lain, jadilah bagaian dari kemanjuan bangsa dan negara.
3. Dimana posisi saya di ruang sosial?
Pastikan kita mengambil peran di ruang-ruang sosial, bukan hanya sebagai penonton ataupun komentator. Jadilah penggerak, inisiator dan fasilitator kebaikan.
4. Apa arti hidup saya?
Cobalah sejenak renungkan apa arti hidup kita di dunia ini, untuk apa kita hidup di dunia, untuk siapa kita hidup,apa tujuan hidup kita, dari mana kita berasal dan akan kemana kita setelah meninggal.
Mari kita jalani hidup ini dengan penuh arti.
Cara memaksimalkan 4 hal diatas
Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk bisa maksimal berkontribusi, menjadi bagian dari solusi, mengmbil peran di ruang sosial, dan menjadikan hidup jauh lebih berarti maka jalan satu-satunya kita harus menjadi kaya. Ya tentu kaya harta dan kaya ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu agama.
Shalat dan puasa itu penting tapi semua orang mampu melakukannya bahkan anak kecil pun bisa shalat dan puasa, tapi cuma orang kaya harta yang bisa shalat, puasa, berangkat haji dan menghajikan orang lain, umroh dan mengumrohkan orang lain, bangun tempat ibadah, bangun tempat pendidikan, bangun panti asuhan, dan lain-lain.
Dan cuma orang yang kaya ilmu yang bisa memberikan solusi atas permasalahan, cuma orang yang kaya ilmu yang bisa memberikan kontribusi gagasan, ide-ide, pemikiran-pemikiran cemerlang, mencerah orang lain, memberikan dan mengajarkan ilmu-ilmunya kepada orang lain.
No Comment