ADI SUMARNA: Bisnis

Browsing "Older Posts"

Home » Bisnis

Menjadi Agen Perubahan di era Industri 4.0

 Jadilah Agen Perubahan Bukan Follower

Seperti yang kita ketahui bersama Dunia dan seisinya terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu tanpa ada yang mampu menghentikannya dan tiada yang bisa menghindar darinya.

Zaman akan terus berubah berubah dan berubah, tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri begitulah kenyataannya siapa yang tidak ikut berubah makan akan tergilas oleh roda perubahan.

Bumi yang kita pijak, lingkungan yang kita tinggali, manusia, teknologi, ilmu kesehatan, musik, pendidikan dan berbagai bidang lainnya semuanya akan berubah dengan cepat dan tiba-tiba baik dengan kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Perubahan akan membuat kita merasa tidak nyaman dan mengacaukan yang sudah ada, namun tidak ada pilihan lain selain beradaptasi. Ya hanya mereka yang memiliki sifat adaptif dan responsif terhadap perubahan yang mampu bertahan seperti kata Charles Darwin berikut:

"It is not the strongest species that survives, nor the most intelligent, but the most responsive to change"
Bukan spesies terkuat yang bertahan hidup, juga bukan yang paling cerdas, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan.

quote bijak tentang perubahan baca disini.

Siapa dan apa saja yang tidak menyesuaikan dengan pembaruan atau perubahan akan menjadi usang, tertinggal, binasa, dan berakhir dengan kepunahan. Teknologi yang paling maju sekali pun di masa lalu jika tidak berubah mengikuti Tren pasti punah di masa sekarang apa lagi di masa mendatang mungkin akan dilupakan.

"The world is changing very fast. Big will not beat small anymore. It will be the fast beating the slow"
Dunia berubah sangat cepat. Yang besar tidak akan mengalahkan yang kecil lagi. Ini akan menjadi yang cepat mengalahkan yang lambat” Rupert Murdoch

Sejak Canon mengeluarkan kamera digital kamera kodak yang masih menggunakan roll film langsung bangkrut. CD dan kaset dan tape bangkut sejak munculnya memory card. Mall-mall besar pada bertumbangan sejak munculnya marketplace, koran dan arus media utama gulung tikar jika tidak beralih ke online. Setiap ada pembaruan maka yang lama kan mati jika tidak mengikuti arus tersebut.

Dulu HP yang sebatas untuk telfon dan SMS sekarang dengan HP di tangan kita bisa melakukan banyak hal menonton film, mendengarkan musik, video call, sebagai navigasi untuk mencari alamat, belanja online, mengambil gambar/memotret, membuat video, browsing mencari info apapun di internet, bermain medsos, game dan kecanggihan kecanggihan lainnya dari HP kita apa lagi sekarang sudah dilengkapi dengan Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Pergeseran dari paper ke digital seperti buku menjadi e-book, seminar menjadi webinar, tiket menjadi e-ticket, kursus menjadi e-course, bayar tol manual menjadi e-toll, transfer manual menjadi internet banking, dan masih banyak lagi.

Bahkan banyak pekerjaan manusia yang sudah digantikan oleh mesin atau robot. Dengan adanya sistem keamanan bersasis komputer Polisi dan Satpam tidak perlu lagi melakukan patroli cukup dengan CCTV sebagai pengawasnya keamanan bisa dikendalikan. Produksi-produksi industri dilakukan oleh robot dan lain-lain.

Semua perubahan diatas bukan hanya bisa mempengaruhi perilaku manusia tetapi juga bisa menguba tatanan dunia.

Perubahan adalah sunnatullah, sudah menjadi hukum alam di dunia ini maka yang harus kita lakukan adalah jangan puas dan terlena dengan keadaan sekarang, bersiap dan antisipasi dengan perubahaan yang akan terjadi, berdaptasi dengan perubahan, memonitor perubahan, nikmatilah setiap perubahan, dan bersiap untuk berubah lagi dan lagi. Tidak ada pertumbuhan di zona nyaman dan tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan.

Ciri hidup adalah berubah, bertumbuh dan berkembang tidak stagnan. Bahkan jika anda memilih diam dan tidak mau berubah dunia akan tetap berubah. Dan anda akan tertinggal bahkan lebih parahnya lagi anda akan menjadi barang rongsokan yang bernilai rendah, dicampakkan dan berujung di tong sampah.


Perubahan yang sangat cepat pada dunia ini memiliki 3 karakter

Speed            : Perubahasan yang begitu cepat, didukung oleh teknologi canggih
Surprise        : Banyak hal baru yang tidak terduga, dan berdampak luar biasa
Sudden Shift: Pergeseran tiba-tiba, tidak hilang namun berpindah

Dengan mengetahui sifat-sifat perubahan diatas kita bisa mengantisipasi terhadap segala perubahan yang akan terjadi sehingga kita akan lebih siap, lebih cepat merespon, lebih mudah beradaptasi dan bisa melakukan tindakan preventif untuk mencegah dampak negatifnya.

Agar kita bisa memimpin perubahan maka kitalah yang harus menjadi agent of change (agen perubahan) itu sendiri. Kita harus menjadi trendsetter bukan follower. 
Berikut yang bisa kita lakukan untuk menjadi agen perubahan

Disruption (distrupsi)

Distrupsi adalah melakukan/Membuat sesuatu yang baru sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman, kuno dan tak terpakai. Distrupsi juga berarti perubahan secara masif dan mengubah tatatan.
Secara etimologi distrupsi berarti gangguan /kekacauan, karena memang cara kerja distrupsi adalah menganggu atau mengacaukan tatanan yang sudah ada. Distrupsi biasanya merombak keseluruhan sistem yang sudah ada dan menggantinya dengan yang baru.

Distrupsi memiliki 2 karakteristik yakni:
1. Perubahan yang sangat mendasar/secara fundamental terkait model bisnis
Semua perusahaan-peruhaan besar yang memimpin pasar sudah tentu terus melakukan inovasi, namun inovasi tersebut sebatas untuk mempertahankan pasar dan pertumbuhan perusahaan, sebaliknya perusahaan-perusahaan pendatang baru (new entrants) menawarkan model bisnis baru yang berbeda dengan yang sudah ada. Contoh perusahaan Taksi konvensional sebenarnya sudah terus-terusan berinovasi tetapi setelah pendatang baru Go Car dan Grab Car menawarkan model bisnis baru yakni mempertemukan pemilik mobil dengan orang yang membutuhkan jasa angkut mobil memalui aplikasi.

2. Distrupsi selalu bermula pada pasar bawah (low-end)
Dengan menawarkan harga yang lebih murah, karena memang awalnya fokus melayani pasar bawah (loe-end) Go car dan Grab car tidak terdeteksi oleh dan tidak begitu di perhatikan oleh Taksi konvensional yang sudah memimpin pasar dan fokus melayani pasar atas (high-end). Tetapi dengan berbagai kemudahan dan benefit yang ditawarkan oleh Go car dan Grab car mereka sekarng menguasai pasar bawah dan pasar atas.

Inovation (Inovasi)

Inovasi atau reka baru adalah melakukan/membuat sesuatu yang baru. Banyak sekali definisi dari inovasi namun substansinya sama yaitu melakukan atau membuat sesuatu yang baru. Meskipun membuat sesuatu yang sudah baru di dalam inovasi biasanya tidak menghilangkan fundamental sistem atau tatanan yang sudah ada, kembali lagi ke Go jek atau go car yang sebelumnya hanya melayani jasa transportasi antar untuk orang, kemudian berinovasi dengan bayak layanan seperti go send, go food, go mart, go pay, go give dan lain-lain. Inovasilah yang akan membedakan antara pemimpin dengan pengikut.

Inovasi menyangkut semua unsur Benefit value dalam bisnis seperti desain baru, teknologi baru, pengalaman baru, cara atau metode baru, layanan baru dan sebagainya.

Inovasi memiliki karakteristik baru, khas, terencana, dan memiliki tujuan yang jelas.
Inovasi memiliki manfaat berikut; penyeselaian masalah (problem solving), menciptakan kualitas dan produktivitas, dan menghilangkan kejenuhan pasar.

Iteration (Iterasi)

Melakukan/membuat sesuatu yang sama dengan lebih baik lagi. Secara harfiah Iterasi berarti "Pengulangan" yakni melakukan sesuatu proses berulang-ulang untuk mendapat hasil tertentu yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Konsep iterasi ini hampir sama dengan ATM (amati tiru modifikasi) seperti yang diterapkan oleh China. Produk apa pun yang laku di pasaran dunia ditiru oleh China kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih murah tetapi dengan kualitas produk yang rendah.

Akan tetapi karena hal itu terus menerus dilakukan oleh China dan mereka pun terus melakukan modifikasi akhirnya China berhasil memperbaiki kualitas produknya dan menjadi negara produsen yang handal yang menguasai pasar dunia. Salah satu produk mereka yang tentu sering kita lihat adalah Smart Phone. Yang awalnya diremehkan oleh produsen besar karena kita sama-sama tahu dengan kualitas yang rendah dan fitur yang terbatas, tapi seiring berjalannya waktu dengan berbagai macam perbaikan akhirnya perlahan mereka menggeser pasar produk-produk smart phone dari negara lain.

Itulah 3 hal yang bisa anda lakukan untuk menjadi agen perubahan. Namun itu semua tidak akan pernah terwujud tanpa ilmu dan keterampilan yang mumpuni.

10 keterampilan yang dibutuhkan di era industri 4.0

  1. Complex problem solving (pemecahan masalah yang kompleks)
  2. Critical thinkink (Berpikir kritis)
  3. Creativity (Kreativitas)
  4. People management (Manajemen orang)
  5. Coordinating with other (Berkoordinasi dengan yang lain)
  6. Emotional Intelligence (Kecerdasan emosional)
  7. Judge And decision making (Hakim (menilai, mengadili, mempertimbangkan) dan pengambilan keputusan)
  8. Service orientation (Orientasi layanan)
  9. Negotiation (Negosiasi)
  10. Cognitive Flexibility (Fleksibilitas Kognitif)
Itulah hal-hal yang dibutukan untuk menjadi agen perubahan terutaman di era industri 4.0 ini. Beranikan diri untuk melakukan terobosan baru, dan mencoba hal-hal baru tanpa takut salah dan gagal.
Senin, 19 Juli 2021

Konsep Kemakmuran Bagian 2

Cara paling efektif untuk meningkatkan perekonomian, kemakmudan dan kesejahteraan

              Masih seputar Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan meningkat begitu pesat, berdasarkan PDB perekonimian Korea Selatan menduduki urutan ke-12 besar dunia dan ekspor Korea Selatan menempati urutan ke-8 terbesar di dunia. Dengan percepatan pertumbuhan ekonomi tersebut membuat Korea Selatan disebut sebagai macan Asia.

         Selama 5 tahun saya tinggal di Korea Selatan saya merasakan betul kemajuan perekonomian disana dan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan pendapatan yang besar dan biaya hidup yang rendah membuat warga-warganya hidup berkecukupan meskipun hanya sebagai buruh. Hal inilah yang membuat saya ingin mencari tahu kenapa perekonomian Korea Selatan maju pesat jauh meninggalkan Indonesia.

        Tentu ada banyak faktor yang membuat perekonimian suatu daerah atau negara itu maju. Namun ada 2 cara yang menurut saya sangat efektif dalam meningkatkat perekonomian suatu daerah.

1. Create traffic generator and profit generator

        Menciptakan pembangkit kunjungan dan pembangkit keuntungan adalah cara pertama untuk meningkatkan perekonomian suatau daerah. Inilah konsep dasar yang bisa di terapkan di segala jenis bisnis. Di dunia digital seperti blog/website atau youtube dan lainnya konten adalah Traffic Generator (pembangkit kunjungan), Semakin banyak dan semakin menarik kontennya maka akan semakin banyak pula pengunjung blog atau kanal youtube itu, semakin baik layananannya maka pengunjung akan datang lagi dan lagi bahkan akan merekomendasikan ke lainnya. Sedangkan sebagai Profit Generator (pembangkit keuntungan) adalah jualan produk, endors atau iklan pada konten blog atau youtube tersebut.

        Untuk menarik pengunjung dari luar negeri Korea Selatan meningkatkan sektor pariwisata sebagai Traffic generator kemudian membrandingnya. Mereka membangun banyak tempat wisata baik tempat wisata yang berbayar maupun yang gratisan, eits jangan salah biarpun gratisan tempatnya keren dan fasilitasnya OK. 

        Tidak hanya disitu mereka memiliki prinsip "Jangan mengundang kalau tidak siap menyambut" itulah yang mendorong mereka untuk menyambut wisatawan dengan pelayanan yang baik, kenyamanan, keamanan dan kepastian harga. Pelayanannya prima, fasilitasnya luarbiasa, keamanannya terjamin, tiap sudut dipantau CCTV, tidak ada calo, tidak ada pungli, tidak ada copet, tidak ada preman, tidak ada genk motor hehehe.. Restoran-restoran, toko-toko, hotel dan motel mereka memberikan kepastian harga kepada pengunjung, tidak membeda-bedakan antara, warga lokal, wisatawan dalam negeri dan wisatawan mancanegara. Inilah yang kenapa pengunjung merasa puas dan tidak kapok untuk datang lagi dan lagi bahkan tidak segan-segan untuk merekomendasikan ke orang lain. Beda banget ya dengan di kita sama wisatawan dalam negeri aja pedagang-pedagangnya memberikan harga yang tidak wajar apa lagi sama turis asing.

      Hal lain yang dilakukan Korea Selatan untuk menarik pengunjung atau menghasilkan traffic generator adalah dengan mengadakan festival-festival besar di sepanjang tahun. Seperti Busan international movie festival, Seoul lantern festival, Jinhae gunhangje festival, Jeju fire festival dan masih banyak lagi festival-festival lainnya yang menarik jutaan pengunjung untuk melihatnya.

     Itulah yang dilakukan oleh Korea Selatan, mereka mengundang pengunjung dari luar untuk datang ke negara mereka kemudian membuat pengunjung menghabiskan uangnya di negara mereka.

2. Memenuhi kebutuhan pasar lokal dan luar

        Penuhi apa yang menjadi kebutuhan pasar lokal dan luar. Kembali lagi ke Korea Selatan, mereka memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka dengan produk-produk dalam negeri buatan anak bangsa, sehingga peredaran uang tetap berputar di dalam negeri. Mulai dari makanan, minuman, produk kecantikan, kesehatan, peralatan rumah tangga, fashion, elektronik, otomotif, telekomunikasi hampir seluruhnya biatan dalam negeri. Selama 5 tahun di Korsel saya belum pernah melihat ada toko elektronik yang menjual buatan china atau negara lainnya, satu-satunya Hp buatan luar yang saya temukaan disana ada Iphone.

      Berbeda sekalai dengan di kita, dari produk makanan, minuman, kecantikan, peralatan mandi, fashion, elektronik, otomotif, telekomunikasi dan lain-lain hampir semuanya impor bukan produk-produk dalam negeri bukan bauatan anak bangsa. Itulah yang menyebabkan peredaran uang di Indonesia mengalir ke luar negeri. 

       Korea selatan juga mewajibkan setiap daerah memiliki produk unggulan untuk dipasarkan ke dalam negeri bahkan kalau bisa sampai ke luar negeri. Ya setelah kebutuhan pasar dalam negeri sudah berhasil dipenuhi langkah selanjutnya adalah memenuhi pasar luar negeri.

       Seperti yang saya tulis di awal bahwa ekspor Korea selatan menempati delapan besar di dunia. Yang industri menjadi andalannya adalah telekomunikasi, elektronik, dan otomotif mereka mengekspor produk-produk mereka ke berbagai negera di belahan dunia. Itulah yang menyebabkan uang dari banyak negara mengalir deras ke Korea Selatan.


Itulah 2 cara untuk meningkatkan perekonomian suatu daerah yang akan berdampak pada kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Korea Selatan, jepang dan negara maju lainnya sudah berhasil menerapkannya.
Semoga arikel ini bermanfaat dan bisa kita terapkan mulai dari desa-desa, kabupaten/kota sampai negara.
Selasa, 31 Maret 2020

Konsep Kemakmuran Bagian 1

Konsep Kemakmuran 

       Ketika saya tinggal di Korea dulu saya melihat Korea sebagai sebuah negara yang sangat maju, aman dan makmur. Tidak ada perbedaan signifikan antara si kaya dan si miskin, tidak ada perbedaan antara kota dan desa semuanya maju, semuanya aman, semuanya sejahtera. Padahal Korea selatan nihil sumber daya alam.
        Tahun 2015 Korea Selatan meraih penghargaan sebagai Negara paling aman di Dunia dari 120 negara. Dan pertumbuhan ekonomi korea selatan melesat begitu cepat.

         Saya berusaha mencari tahu kenapa pertumbuhan Korea Selatan begitu cepat dibanding negara-negara lainnya di Asia. Alhamdulillah saya menemukan sebuah tulisan di facebook yang isinya menjawab pertanyaan-pertanyaan saya selama ini kok bisa Korea begitu maju.

         Di dalam artikel itu menjelaskan bahwa menurut ahli rekayasa sosial ukuran masyarakt yang sehat hanya berpijak pada dua hal yaitu keamanan dan kesejahteraan. Pantas saja Korea selalu meningkatkan
     Di bidang kesejahteraan sebuah masyarakt membangun sistem pertahanan, sistem keamanan, tata tertib dan supremasi hukum.  Korea Selatan bukan hanya memperkuat sistem pertahanan nasional saja tetapi juga membangun sitem keamanan yang canggih. Dengan menggunakan sistem keamanan berbasis komputer yang canggih Korea Selatan berhasil menyabet prestasi sebagai negara teraman di 2015. Jalan-jalan dan semua tempat dipantau SCCTV dan alarm ke amanan, ketika terjadi sesuatu petugas keamanan dalam hitungan menit sudah berada di lokasi kejadian. Dengan begitu tidak ada yang berani melanggar lalu lintas meskipun tidak ada polisi yang bertugas, tidak ada yang berani buang sampah sembarangan, tidak ada yang berani mencuri atau melakukan tindak kriminal lainnya.

       Dibidang kesejahteraan berbagai macam pendekatan pun dilakukan mulai dari meningkatkan sumber daya manusia, mengelola pariwisata guna menarik wisatawan mancanegara, meningkatkan hasil pertanian dan perkebunan guna meningkatkan ketahanan pangan, membangun industri guna memenuhi kebutuhan pasar lokal dan luar negeri dan lain-lain.

Baca juga: Kekuatan sebuah narasi

         Itulah konsep dasar kemakmuran yang bisa digunakan untuk membangaun masyarakat yang sehat. Bisa diaplikasikan di tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai negara. Korea Selatan sudah berhasil menerapkannya, mampu meningkatkan besaran dan memperluas sebaran kesejahteraan hingga ke seluruh wilayah. Kamu kapan?

Baca juga: Konsep kemakmuran bagian 2

Senin, 30 Maret 2020

Memancing Ikan dengan Es Krim


Anda suka es krim? Wajar kalau iya. Karena memang makanan itu enak sekali. Tapi, menjadi tidak wajar jika Anda menganggap siapapun pasti juga suka es krim. Sehingga, ketika Anda memancing ikan di sungai, umpannya pun es krim! Wah, ini jelas keliru. Memancing ikan seharusnya dengan cacing, bukan dengan es krim, semahal atau seenak apapun es krim itu.

Jangan salah, dalam kehidupan berbisnis pun, banyak orang mencoba memancing dengan umpan yang salah. Contoh sederhana, menawarkan produk pewarna rambut pada orang yang kepalanya botak, menawarkan asuransi kepada keluarga muslim yang melihatnya sebagai sesuatu yang haram, dan lain sebagainya.

Selain takkan efektif, hal ini juga seperti mengajak ribut calon konsumen. Inilah yang saya maksud dengan orang yang sedang memancing ikan dengan es krim.

Yang benar bagaimana? Kenali dulu baik-baik ikan yang ingin Anda pancing. Lalu perkirakan, umpan apa yang bakal dia santap. Jika ikannya adalah mahasiswa, umpannya bisa jadi potongan 50% tuitition fee untuk kuliah di universitas luar negeri. Jika ikannya adalah pengantin baru, umpannya bisa jadi adalah paket promo bulan madu di Lombok. Dan seterusnya.

Dalam dinamika bisnis, kita harus mampu berkali-kali merancang umpan-umpan yang tepat. Termasuk untuk ikan yang sama. Sebab, sekali konsumen membeli dari kita (menggigit umpannya), bukan berarti tugas kita selesai. Kita perlu terus berusaha menjual lagi, dan lagi, dan lagi. Ini memang pekerjaan nonstop dari seorang pebisnis, kalau tidak ingin ikan-ikannya masuk ke baskom pemancing lain.

Untuk merancang umpan yang tepat, kita harus tahu selera dan impian konsumen kita. Kebanyakan dari mereka tidak memberi tahu kita dengan gamblang, "saya suka kalau diperlakukan seperti ini, dikasih bonus ini, dilayani oleh si ini, dan mendapat barang yang begini." Mereka cenderung diam. Dan ketika merasa tidak puas, tahu-tahu, mereka pindah ke kompetitor Anda.

Maka cari tahu apa yang konsumen inginkan. Bisa juga kita sendiri melakukan penyelidikan kecil-kecilan. Secara berkala, mampirlah untuk memberi sesuatu dari pesaing. Taruh dulu kaca mata penjual Anda di saku, kemudian kenakan kaca mata pembeli sekarang.

Dulu, ketika Google meluncurkan jejaring sosial Google+, Mark Zuckerberg (pendiri Fecebook) terang-terangan mendaftar sebagai anggotanya. Google tahu itu, tapi mereka tidak bisa melarang. Toh Mark mendaftar sebagai orang biasa, yang hak-haknya diakui konstitusi. Meskipun kita sama-sama tahu, Mark mendaftar dalam misi penyelidikan kelemahan dan keunggulan media sosial kompetitiornya itu.

Ini tindakan yang perlu. Dari penyelidikan seperti ini, Anda akan tahu apakah pelayanan Anda lebih baik dari kompetitor atau malah banyak yang perlu dibenahi. Jika memang perlu dibenahi, benahilah segera. Supaya Anda tidak lagi memancing dengan umpan es krim.

Sabtu, 15 Februari 2020

Era Terminator: Manusia versus Mesin


Bersyukurlah, kita hidup di zaman yang canggih. Apa-apa serba mudah. Kita tak perlu bangkit untuk sekadar memindah saluran televisi, karena remote control sudah ditemukan. Orang Jakarta tidak perlu berkendaraan 12 jam untuk sampai Surabaya, karena sudah ada moda transportasi bernama pesawat. Berkat teknologi, hidup kita menjadi lebih mudah dari hidup kakek-nenek kita.

Namun, bukan berarti teknologi tidak mempunyai sisi negatif. Teknologi adalah pesaing kita di era ini. Kalau dulu, persaingan kita hanya dengan manusia lainnya. Pekerja bersaing dengan calon pekerja untuk mengisi sebuah posisi di suatu perusahaan. Pebisnis bersaing dengan pebisnis dalam mendapatkan pembeli. Sekarang? Ketika persaingan dengan sesama manusia semakin ketat (karena jumlahnya semakin banyak), kita juga masih harus bersaing dengan mesin atau teknologi.

Dulu, sebuah pabrik baru berjalan kalau ada ribuan orang. Sekarang, dengan robot, cukup dibutuhkan puluhan operator, semuanya berjalan lancar. Itu pun hasilnya lebih cepat dan rapi daripada pabrik dengan ribuan pegawai.

Dulu, kita antre panjang untuk membayar listrik, air, membeli tiket kereta, pesawat, bahkan sekadar untuk transfer uang lewat bank. Sekarang, semuanya bisa dilakukan melalui internet atau ATM. Kebutuhan akan petugas teller dan pelayanan dalam satu dasawarsa ini jauh menyusut.

Maskapai-maskapai penerbangan kita pun sudah banyak yang memfasilitasi penumpangnya dengan check-in melalui situs. Di bandara-bandaranya sudah banyak tersedia mesin check in. Kerja petugas check-in jadi ringan. Namun juga berarti satu hal: skill mereka hampir tidak dibutuhkan lagi.

Kebutuhan manusia berkembang membuat dunia usaha berkembang pula. Banyak profesi-profesi baru lahir.

Saya, misalnya, sebelumnya tidak pernah membayangkan profesi social media manager itu ada. Orang semacam ini khusus dibayar untuk bermain media sosial sepanjang jam kerja. Di kantor lain, seorang pegawai bisa kena PHK karena ketahuan Facebook-an. Eh, ini mainan Facebook dan Twitter sepanjang hari, bukannya dipecat, malah digaji, bahkan terkadang diberi komisi layaknya tenaga marketing. Ini tentu tidak terbayang 10 tahun yang lalu.

Variasi profesi memang berkembang gila-gilaan. Tapi juga ada banyak profesi yang terancam punah gara-gara perkembangan teknologi. Sebuah situs pernah merilis 10 profesi dan usaha yang akan hilang dari dunia industri. Silakan Anda cari browsing sendiri apa saja profesi tersebut. Tapi intinya, itu semua merupakan dampak dari persaingan antara manusia dengan mesin.

Dengan demikian, dari sisi pekerja, diprediksi akan semakin banyak pengangguran. Sementara dari sisi pengusaha, semakin sulit juga untuk menciptakan lapangan kerja dan meraup untung.

Ini adalah versi nyata dari film Terminator, dimana manusia terancam oleh mesin. Sedemikian mengerikankah kehadiran teknologi ini?

Bagaimanapun, kita jangan pesimis. Kalau kita perhatikan dengan saksama, sebenarnya yang tergusur oleh teknologi dan robot ini kebanyakan adalah bidang-bidang yang bersifat perhitungan, repetisi, dan analisa. Dengan kata lain, pekerjaan-pekerjaan otak kiri. Sementara pekerjaan otak kanan yang cenderung berkaitan dengan seni, kreasi, selera, keberanian, dan emosi, sulit saya bayangkan bisa diganti oleh mesin.

Semoga catatan singkat ini bisa memantik ide brilian Anda untuk bekerja dan berkarya. Juga berbisnis dan bersaing dengan manusia maupun teknologi. Salam sukses!


Seni Mengikat Ilmu dalam Otak



Pada era internet seperti ini, semua orang mudah memperoleh hampir apapun ilmu yang dibutuhkannya. Gratis, pula! Mau belajar tentang alam liar? Tonton saja Discovery Channel di televisi. Mau belajar trik sulap? Buka saja YouTube.com dan masukkan kata kunci “magician trick”. Mau belajar membuat presentasi? Akses saja SlideShare.net! atau google slide! Mau belajar bahasa Korea? Kunjungi saja situs bumikorea.com.  Mau belajar bisnis? Kunjungi saja AdiSumarnaa.blogspot.com dan baca artikel-artikel gratisnya :)

Ilmu-ilmu gratisan banyak sekali betebaran. Jumlahnya bahkan jauh melebihi daya tampung otak kita. Tapi, berapa dari kita yang benar-benar memanfaatkannya dengan serius? Berapa gelintir dari kita yang benar-benar menjalankannya?

Saya bukan hanya membicarakan ilmu-ilmu gratis. Ilmu-ilmu berbayar pun sama saja. Coba, sewaktu kita sekolah dulu, otak kita terus dicekoki ilmu-ilmu yang mahal, bukan? Sekarang, berapa banyak yang tersisa? Berapa banyak yang masih kita pakai untuk pekerjaan sehari-hari? Orang bilang, paling maksimal 10 persennya saja.

Lantas, kemana 90 persen sisanya? Sebagian hilang pelan-pelan dari otak kita, sebagian lagi masih ada tapi menunggu untuk hilang.

Bisakah supaya yang tersisa itu tidak hilang? Bisa! Caranya, tidak ada jalan lain, praktikkan!

Ada banyak ilmu yang tidak bisa dikuasai hanya melalui pengajaran, seminar atau membaca. Untuk bisa berenang, umpamanya, kita harus masuk ke kolam dan mencoba mengambang. Sekalipun Anda ikut seminar “How to Swim” dengan trainer atlet renang peraih emas Olimpiade, selama sebulan penuh sekalipun, kalau Anda tidak buka baju dan nyemplung, hasilnya tetap nol besar!

Kita harus praktik, praktik dan praktik! Kalau gagal, misalnya tenggelam dan harus menelan banyak air, jangan kapok. Coba lagi. Gagal lagi? Ya coba lagi! Sampai kita terampil dan bisa. Semakin sering kita melakukannya, semakin keterampilan tersebut menjadi kebiasaan. Sehingga, kita tak perlu berpikir lagi saat melakukannya.

Kalau masih menggunakan contoh renang tadi, otot-otot kita jadi refleks saja menggerakkan tubuh untuk mengambang dan meluncur. Jadi, sewaktu-waktu tercebur sungai, Anda tidak panik. Tidak bingung menghapal teori-teori How to Swim. Nanti keburu tenggelam!

Jika habit system yang didapat dari keterampilan yang terus diasah sudah terbentuk, tanpa berpikir pun, tubuh Anda akan bergerak-gerak sendiri mengambang di permukaan air. Lalu mudah saja Anda berenang menuju tepian.

Begitu juga untuk menjadi ahli dalam satu bidang, seperti menjadi pebisnis, akuntan, pilot, pengacara, arsitek, dokter, atau apapun. Tidak bisa hanya melalui teori-teori atau mengikuti seminar How to. Anda harus mengimbanginya dengan praktik.

Pengetahuan apapun yang kita peroleh dari seminar, buku, video atau kuliah dosen, takkan berguna kalau tidak Anda praktikkan dalam kehidupan nyata.

Setelah ilmu itu dikuasai dan terus diasah, Anda sebenarnya bisa membuatnya semakin menancap di otak dan takkan hilang. Yaitu dengan mengajarkannya (menyampaikannya ke orang lain) dan menulisnya. Buktikan sendiri!

Mencari Ide Bisnis tak Perlu Rumit, Ini Aturan Patennya


Begini yang sering terjadi pada kita: Niat untuk berbisnis dan menjadi pebisnis sudah ada dari dulu. Namun, kita masih maju-mundur, “Iya, tapi bisnis apa ya? Nanti mulainya dari mana?” Ini problem klasik mereka yang ingin memulai usaha: ide. Apakah Anda termasuk yang bingung dengan ide bisnis? Bila iya, lanjutkan membaca.

Ide itu bisa datang dari mana-mana. Omong kosong kalau ada orang yang mengaku tidak ada ide berbisnis apa. Namun kita harus ingat aturan patennya, "Jangan menjual sekedar apa yang bisa kita buat. Tapi buatlah apa yang bisa kita jual." Artinya, sebelum membuat sebuah produk atau jasa, pikirkanlah, "Apakah ini bisa dijual?"

Terkadang, mentang-mentang kita jago menyisir rambut kucing peliharaan sampai kucingnya tertidur, misalnya, lantas kita buru-buru membisniskannya. Padahal harusnya diperiksa dulu, apakah "menyisir rambut kucing" ini ada pasarnya? Berapa pemilik kucing yang butuh jasa semacam ini? Apakah sebanding dengan modal uang, tenaga dan waktu yang akan dikeluarkan nanti?

Karena sudah hobi dan merasa ahli, biasanya, hal-hal semacam itu tidak diperhitungkan lagi. Hajar saja! Nekat saja! Itu baru pemberani!

Benar, sikap pemberani itu perlu dalam bisnis. Tapi nanti dulu. Jangan dikeluarkan dulu sikap pemberani itu. Karena, bagi pebisnis pemula, penting sekali untuk menjual produknya dengan mudah, mengingat aliran dana (cash flow) adalah segalanya. Sama vitalnya dengan aliran darah dalam tubuh. Kalau itu sampai terganggu, bisa fatal kesehatan kita. Bisa kolaps bisnis kita yang baru seumur jagung itu.

Makannya, sekali lagi prinsip dasarnya adalah jangan menjual sekedar apa yang bisa kita buat. Tapi buatlah apa yang sekiranya bisa kita jual.

Tapi, bagaimana mendeteksi sesuatu bisa kita jual atau tidak?

Simpel saja. Buka mata, buka telinga, dan amati orang-orang. Manusia adalah makhluk yang penuh keluh kesah. Mereka merasa banyak sekali problem yang menimpanya. Jika kita bisa menajamkan mata dan telinga, niscaya, kita bisa menemukan masalah yang layak dibisniskan.

Lho, kok malah membisniskan masalah? Ya, inti dari jualan produk atau jasa kan memang mengatasi masalah orang.

Seorang kawan memiliki bisnis yang begitu sederhana. Yaitu bisnis pengantaran oleh-oleh. Rumahnya yang dekat bandara dia manfaatkan benar. Dia melihat banyak orang yang terbang pulang tanpa sempat membeli oleh-oleh. Sementara toko-toko dibandara mahal-mahal dan itemnya terbatas. Maka dia membuaka jasa pengantaran khusus oleh-oleh.

Kawan itu membuat website, broadcast di BBM, WA, Facebook dan sebagainya bahwa dia bisa membelikan oleh-oleh dan mengantarkannya ke bandara. Cukup beritahu apa oleh-oleh yang diinginkan, berapa banyak, lokasi ketemuannya kapan dan di terminal berapa.

Sampai sekarang jasa unik ini tak pernah sepi. Hampir setiap hari ada saja yang minta tolong. Dia mengambil margin 10.000 per kotak. kalau pemesanannya 50 kotak, hitung saja untungnya sekali pengiriman.

Sederhana, bukan? Masa Anda tidak bisa menemukan ide bisnis-bisnis “remeh” namun menghasilkan seperti ini?